Confession?
Awalnya untuk kasus yang ini aku tak berniat dan bahkan takut untuk melakukannya. Tapi menahankan sesuatu yang tak sanggup ditahan itu sakit.
Aku mantapkan hati mengatakan itu. Hanya agar ia tahu, tak lebih dari itu.
30 Maret 2013, Rantau Prapat.
Yeep akhirnya aku publish surat untuk ibu yang berhasil juga dibukukan di "111 Surat Untuk Ibu" di acara IMMSAC PK IMM FKIP UMSU 2013. Isinya sih curhat semua, hahaha XD tapi itung2 bisa jadi tambahan pengalaman hidup buat kalian readers :)
Let's read...
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Untukmu, Mamaku tersayang…
Ma, kuharap hari
ini engkau baik-baik saja. Seperti tiap harinya kau menunjukkan raut tenangmu.
Walau sebenarnya aku tahu kau lelah, penuh masalah, namun kau tak pernah
berkeluh kesah.
Lewat surat ini aku
ingin bercerita semuanya, Ma. Cerita yang tak pernah bisa aku ungkapkan
langsung kepadamu.
Ma, aku yang
sekarang sudah 20 tahun. Masih berada di bangku kuliah, meniti jalanku menuju
masa depan. Selama itu kita hidup bersama, walau tak semua hal pernah
kuceritakan kepadamu. Dan belakangan ini, aku merasa kita jauh. Dengan
kesibukanku yang tiada henti, terkadang aku meninggalkanmu sendiri tanpa bisa
membantumu mengerjakan pekerjaan di rumah kita.
Maaf Ma, aku tahu
kadang kau kesal. Pastinya kau marah ketika aku terlalu larut untuk kembali ke
rumah karena masih ada tanggung jawab organisasi yang harus aku kerjakan diluar
sana. Aku tahu kau selalu melarangku mengikuti kegiatan diluar pelajaranku yang
selalu membuatku sibuk hingga terkadang aku hanya punya sedikit waktu di rumah.
Tapi Ma, ini
pilihanku sejak awal. Aku merasa banyak pelajaran yang kudapatkan atas hidup
yang kujalani ini. Kau selalu bandingkan aku dengan yang lain. Kau katakan
bahwa teman rumahku itu selalu punya waktu di rumah selepas ia kuliah, sedang
aku tak begitu. Kau katakan bahwa tak ada gunanya aku mengikuti itu semua,
sedang aku merasa tak begitu. Kau katakan aku hanya menjadi suruhan mereka
melakukan ini itu, sedang aku juga merasa tak begitu.
Ma, terkadang aku
juga merasa sedih. Mungkin kau mengharapkan aku seperti anak-anak yang lain
itu. Tapi Ma, kau akan tahu kuatnya anakmu ini seperti apa nantinya. Aku pasti
bisa lebih sukses dari mereka, Ma. Aku selalu berikan prestasi yang terbaik
sejak dulu. Ini kubuktikan karena aku sayang padamu. Aku anak pertama, Ma. Dan
tak ada lelaki diantara kami. Aku harus jadi anak yang kuat. Yang bisa jadi
contoh bagi adik-adikku yang lain. Maaf Ma, mungkin terkadang itu semua masih
salah di matamu. Mungkin yang kau mau, aku tiap harinya di rumah, tanpa ada
kegiatan apapun diluar sana. Tapi maaf Ma, aku masih ingin belajar. Aku masih
ingin mengetahui pahit manisnya hidup ini selagi aku masih bisa, Ma.
Belakangan ini aku
lemah, Ma. Tak sekuat yang dulu. Terkadang sibuknya aku memikirkan orang lain,
membuatku lupa akan aku sendiri. Aku sering sakit. Lupanya aku menjaga
kesehatanku, hingga beberapa tanggung jawabku pun kulewatkan. Dan, terima kasih
Ma. Kau masih memperhatikanku saat sakitku. Walau aku tiap harinya buat kau
kesal, tapi aku tahu, Mama pasti tak pernah tak sayang dengan anaknya. Walau
terkadang aku terkesan tak mendengar perkataanmu, tapi sejujurnya aku
mendengarkan itu semua, Ma. Dan aku berusaha menjadi anakmu yang terbaik yang
kau harapkan.
Seperti hari ini,
Ma. Aku tetap membantumu menjalankan semua tugasku di rumah ini. Dan
selepasnya, aku akan menjalankan kehidupanku di luar. Setiap harinya akan
seperti ini, Ma. Tak akan kusia-siakan waktuku ketika aku dirumah bersamamu.
Hingga akhirnya kesal tak lagi muncul di wajahmu, tapi aku akan jadi anak
kebanggaan yang engkau miliki. Aku janji, Ma…
Oh ya Ma, maaf
kalau tak semua kejadian dan masalah yang ada padaku terkadang tak kuceritakan
padamu. Mungkin untuk hal-hal diluar sana, aku hanya bercerita pada teman-teman
sebayaku, Ma. Aku hanya tak ingin menambahi beban pikiranmu. Selama aku
sanggup, aku akan menyelesaikan semua masalahku sendiri, agar aku semakin
dewasa nantinya.
Sekali lagi Ma,
aku ingin mengatakannya pada Mama : “Aku sayang Mama dan aku janji akan buat
Mamaku bahagia…”
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Dari anakmu, Aridha Nisyah Ritonga.
Langganan:
Postingan (Atom)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact